BERMAZHAB SYAFI'I DALAM FIQIH, BERMAZHAB ASY'ARI DALAM AKIDAH

Bermazhab Syafi'i Dalam Fiqih Bermazhab Asy'ari Dalam Akidah; Perspektif al-Hafizh Ibnu Asakir, al-Hafizh Al-Baihaqi dan Imam Mujtahid Tajuddin al-Subki

Imam Ibnu Asakir di dalam Kitab Tabyin Kidzb al-Muftari mejelaskan sebab para ulama Ahlussunnah menisbahkan diri kepada Imam Abu Hasan Al-Asy'ari.

(السؤال) :
فَإِن قَالَ بعض الْجُهَّال من البتدعة : لسنَا نَعْرِف غير الْمذَاهب الْأَرْبَعَة ، فَمن أَيْن أَتَى هَذَا الْمَذْهَب الْخَامِس الَّذِي اخترعتموه ، وَلم رَضِيتُمْ لأنفسكم بالانتساب إِلَى الْأَشْعَرِيّ الَّذِي اتبعتموه ، وهلا اقتنعتم بالانتساب إِلَى الإِمَام الألمعي أَبِي عَبْد اللَّهِ مُحَمَّد بن إِدْرِيس الشَّافِعِي، فَإِنَّهُ أولى بالانتساب إِلَيْهِ مِمَّن سواهُ ، وأحق بالانتماء إِلَى مذْهبه مِمَّن عداه ؟!

(الجواب)
قلنَا : هَذَا قَول عري عَن الصدْق ، وقائله بعيد عَن الْحق ؛ فَمن ذَا الَّذِي حصر الْمذَاهب بِالْعدَدِ الَّذِي حصرتم ؟ وَمن يصحح لكم من قَوْلكُم ماذكرتم ؟ 
بل الْمذَاهب أكْثَرهَا لَا ينْحَصر بِهَذَا الْعدَد الَّذِي عددتم ، وَلَو كَانَت منحصرة بِهِ لم يحصل لكم بذلك مَا قصدتم ، وكأنكم لم تسمعوا بِمذهب اللَّيْث بن سعد الْمصْرِيّ وَعُثْمَان بن سُلَيْمَان البتي الْبَصْرِيّ واسحق بن رَاهَوَيْه الْخُرَاسَانِي وَدَاوُد ابْن عَليّ الْأَصْبَهَانِيّ وَغَيرهم ؛ من عُلَمَاء الْإِسْلَام الَّذين اخْتلفُوا فِي الْفَتَاوَى وَالْأَحْكَام ، لَا فِي أصُول الدّين المبنية على الْقطع وَالْيَقِين ، وَلَيْسَ انْقِرَاض أَرْبَاب هَذِهِ الْمذَاهب الَّتِي سمينَا يصحح لهَذَا الْجَاهِل هَذِهِ الْمقَالة الَّتِي عَنهُ حكينَا.
ولسنَا نسلم أَن أَبَا الْحسن اخترع مذهبا خَامِسًا ، وإِنَّمَا أَقَامَ من مَذَاهِب أهل السّنة مَا صَار عِنْد المبتدعة دارسا ، وأوضح من أَقْوَال من تقدمه من الْأَرْبَعَة وَغَيرهم مَا غَدَا ملتبسا ، وجدد من معالم الشَّرِيعَة مَا أصبح بتكذيب من اعْتدى منطمسا.
ولسنَا ننتسب بمذهبنَا فِي التَّوْحِيد إِلَيْهِ على معنى أنَا نقلده فِيهِ ونعتمد عَلَيْهِ ؛ ولكنَا نوافقه على مَا صَار إِلَيْهِ من التَّوْحِيد لقِيَام الْأَدِلَّة على صِحَّته لَا لمُجَرّد التَّقْلِيد ، وَإِنَّمَا ينتسب مِنَّا من انتسب إِلَى مذْهبه ليتميز عَن المبتدعة الَّذين لَا يَقُولُونَ بِهِ من أصنَاف الْمُعْتَزلَة والجهمية المعطلة والمجسمة والكرامية والمشبهة السالمية وَغَيرهم من سَائِر طوائف المبتدعة وَأَصْحَاب المقَالات الْفَاسِدَة المخترعة ؛ لِأَن الْأَشْعَرِيّ هُوَ الَّذِي انتدب للرَّدّ عَلَيْهِم حَتَّى قمعهم وَأظْهر لمن لم يعرف الْبدع بدعهم.
ولسنَا نرى الْأَئِمَّة الْأَرْبَعَة الَّذين عنيتم فِي أصُول الدّين مُخْتَلفين ؛ بل نراهم فِي القَوْل بتوحيد اللَّه وتنزيهه فِي ذَاته مؤتلفين ، وعَلى نفي التَّشْبِيه عَن الْقَدِيم سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُجْتَمعين ، والأشعري رَحمَه اللَّه فِي الْأُصُول على منهاجهم أَجْمَعِينَ.
فَمَا على من انتسب إِلَيْهِ على هَذَا الْوَجْه جنَاح ، وَلَا يُرْجَى لمن تَبرأ من عقيدته الصَّحِيحَة فلاح ، فَإِن عددتهم القَوْل بالتنزيه وَترك التَّشْبِيه تمشعرا فالموحدون بأسرهم أشعرية، وَلَا يضر عِصَابَة انتمت إِلَى موحد مُجَرّد التشنيع عَلَيْهَا بِمَا هِيَ مِنْهُ بَريَّة

Pertanyaan:
"Kalau ada sebagian orang bodoh dari kalangan ahli bid'ah bertanya; "Kami tidak mengetahui selain mazhab yang empat, dari mana datangnya mazhab kelima yang kalian ciptakan? Kenapa kalian rela menisbahkan diri kalian kepada Al Asy'ari yang kalian ikuti? Tidakkah kalian berpuas diri menisbahkan diri kepada Imam yang ramai pengikutnya Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi'i, karena menisbahkan diri kepadanya lebih pantas daripada kepada selainnya dan lebih pantas untuk menisbahkan diri kepada mazhabnya?"

Jawaban kami:
Ini adalah perkataan yang tidak benar. Orang yang mengatakannya jauh dari kebenaran. Siapa yang membatasi jumlah mazhab seperti angka yang kalian batasi itu? Dan siapa orang yang membenarkan ucapan yang kalian sebutkan itu?

Mazhab-mazhab tidak terbatas dengan bilangan yang kalian hitung ini. Kalau kalian batasi dengan bilangan itu kalian, tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan. Sepertinya kalian belum pernah dengar Mazhab Al Laits bin Saad al-Mishriy, Utsman bin Sulaiman al-Batty al-Bashri, Ishaq bin Rahawaih al-Khurasani, Daun bin Ali al-Ashbahani, dan lain-lain; mereka adalah ulama Islam yang berbeda-beda dalam masalah fatwa dan hukum. Namun tidak berbeda dalam masalah Ushuluddin yang dibangun diatas dasar qath'i dan yakin. Meskipun mazhab-mazhab yang kami sebutkan itu telah sirna, tidak bisa dijadikan pembenaran terhadap perkataan orang bodoh yang kami ceritakan ini.

Kita tidak terima pernyataan bahwa Imam Abu Hasan Al-Asy'ari membuat mazhab yang kelima. Imam Abu Hasan hanya mengokohkan mazhab-mazhab ahlussunah yang telah mulai hilang tanpa bekas oleh para ahli bid'ah dan menjelaskan perkataan-perkataan ulama-ulama yang terdahulu dari kalangan penganut mazhab yang empat dan lain-lain yang sudah dimanipulasi. Serta memperbaharui ajaran-ajaran syariat yang sudah mulai pudar oleh kebohongan orang-orang yang melampaui batas.

Kami menisbahkan diri kepada mazhab beliau dalam masalah tauhid bukan berarti kami taqlid kepada beliau dalam masalah tauhid dan kami bersandar kepadanya. Akan tetapi kami bersepakat dengannya terhadap keyakinan-keyakinan bertauhid berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan kebenarannya, bukan semata-mata karena taqlid. Kami menisbahkan diri kepada beliau untuk membedakan dari kalangan kelompok bid'ah yang tidak berkeyakinan seperti beliau, seperti kelompok-kelompok yang ada di dalam Mu'tazilah, jahmiyah, mu'athilah, mujassimah, Karramiyah, musyabbihah Salimiyah dan lain-lain dari seluruh kelompok-kelompok ahli bid'ah dan pemilik pandangan-pandangan sesat yang baru muncul. Karena Al Asy'ari tampil membantah mereka sampai membungkam mereka, sehingga orang-orang yang tidak tahu perbuatan bid'ah mereka menjadi tahu.

Kami memandang bahwa Imam-imam dalam mazhab yang empat yang kalian maksudkan tidaklah berbeda dalam masalah Ushuluddin. Bahkan kami melihat mereka berpandangan sama dalam masalah tauhid dan mensucikan zat Allah. Dan mereka sepakat menafikan keserupaan Allah yang Qadim dengan apapun. Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dalam ranah Ushul (akidah) sejalan dengan manhaj mereka semuanya.

Tentu saja menisbahkan diri kepadanya seperti yang mereka lakukan ini tidak ada salahnya. Dan orang-orang yang berlepas diri dari akidahnya yang benar tidak akan beruntung. Jika kalian menganggap bahwa pendapat yang menyatakan tanzih (mensucikan Allah) dan meninggalkan tasybih adalah mengekor kepada Asy'ari, maka seluruh ahli tauhid adalah Asy'ariyah. Tidak berpengaruh apa-apa sekedar celaan yang tidak ada pada diri Imam Abu Hasan Al-Asy'ari yang dituduhkan oleh orang-orang yang menisbahkan diri mereka sebagai ahli tauhid.

Imam al-Baihaqi menuturkan peran Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dalam ranah akidah yang dikutip oleh Imam al-Hafizh Ibnu `Asakir di dalam Kitab Tabyin Kidzb al-Muftari;

إِلَى أَن بلغت النّوبَة إِلَى شيخنَا أَبِي الْحسن الْأَشْعَرِيّ رَحْمَة اللَّه فَلم يحدث فِي دين اللَّه حَدثا وَلم يَأْتِ فِيهِ ببدعة بل أَخذ أقاويل الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ وَمن بعدهمْ من الْأَئِمَّة فِي أصُول الدّين فنصرها بِزِيَادَة شرح وتبيين وَأَن مَا قَالُوا فِي الْأُصُول وَجَاء بِهِ الشَّرْع صَحِيح فِي الْعُقُول خلاف مَا زعم أهل الْأَهْوَاء من أَن بعضه لَا يَسْتَقِيم فِي الآراء 

فكان فى بيانه تقوية ما لم يدل عليه من أهل السنة والجماعة ونصرة أقاويل من مضى من الأئمة كأبى حنيفة وسفيان الثورى من أهل الكوفة والأوزعى وغيره من أهل الشام ومالك والشافعى من أهل الحرمين ومن نحى نحوهما من الحجاز وغيرها من سائر البلاد وكأحمد بن حنبل وغيره من أهل الحديث والليث بن سعد وغيره وأبى عبد الله محمد بن اسماعيل البخارى وابى الحسين مسلم بن الحجاج النيسابورى إمامى أهل الآثار وحفاظ السنن التى عليها مدار الشرع رضى الله عنهم أجمعين

Sampai datang masa guru kita Abu Hasan Al-Asy'ari -semoga Allah merahmati beliau-, beliau tidak menambahkan sesuatu yang baru dalam ajaran agama. Beliau tidak memunculkan bid'ah apapun. Akan tetapi beliau mengambil perkataan-perkataan para sahabat, tabi'in dan para imam dalam bidang Ushuluddin generasi setelah mereka. Beliau menolong pendapat-pendapat mereka dengan menambahkan penjelasan dan keterangan. Dan perkataan mereka dalam ranah Ushul dan dikuatkan oleh dalil-dalil Syariat adalah sahih menurut akal. Berbeda dengan asumsi para pengikut hawa bahwa sebagiannya adalah pandangan-pandangan yang tidak benar.

Dalam penjelasan al-Asy`ari, menguatkan apa yang belum ditunjukkan dari Ahlussunnah wal Jama'ah, menolong pendapat-pendapat ulama panutan terdahulu, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Sufyan al-Tsauri dari kalangan ulama Kufah, Imam al-Auza`i dan yang lain dari kalangan ulama Syam, Imam Malik dan Imam Syafi'i dari ulama Haramain dan ulama yang semisal dengan keduanya dari Hijaz dan yang lain dari daerah-daerah lain. Dan seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan yang lain dari ahli hadis, Laits bin Sa`ad, dan yang lain, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari dan Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, yang keduanya adalah imam ahli atsar serta huffazh sunnah yang menjadi sumber rujukan syariat. Semoga allah meridhoai mereka semuanya. (Tabyin Kidzb al-Muftari)

Imam Tajuddin al-Subki di dalam Kitab Thabaqat al-Syafi'iyah menjelaskan alasan para ulama Ahlussunnah mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dalam akidah:

 واعلم ان ابا الحسن الأشعرى لم يبدع رأيا ولم ينشأ مذهبا  وإنما هو مقرر لمذاهب السلف مناضل عما كانت عليه صحابة رسول الله فالأنتساب إليه إنما هو باعتبار أنه عقد علي طريق السلف نطاقا وتمسك به وأقام الحجج والبراهين عليه فصار المقتدى به فى ذلك السالك سبيله فى الدلائل يسمى اشعريا 

Dan ketahuilah bahwa Imam Abu Hasan al-Asy`ari tidak membuat-buat pendapat baru dan tidak pula menimbulkan mazhab (baru). Beliau hanya mentaqrir (menetapkan ulang) kembali mazhab-mazhab salaf serta mempertahankan akidah sahabat Rasulullah. Intisab kepada beliau adalah dari sisi beliaulah yang merajut kembali jalan salaf, berpegang dengannya, serta menegakkan argumentasi-argumentasi dan bukti-bukti kebenarannya. Kemudian, orang-orang yang mengikuti beliau dan menapak tilas jalan beliau dalam menetapkan dalill-dalil disebut dengan Asy`ariyah. (Thabaqat al-Syafi`iyah).

0 Komentar

Tinggalkan Komentar